Percobaan Menanam Pala

Tanaman pala merupakan salah satu tanaman rempah-rempah asli Indonesia yang biasanya tumbuh di dataran rendah. Tanaman ini berasal dari Kepulauan Maluku, kemudian menyebar ke berbagai daerah dan menjadi salah satu rempah penting sejak zaman kolonial sampai sekarang. Kalau kita kembali membaca sejarah, rempah-rempah inilah yang menjadi penyebab kedatangan bangsa-bangsa eropa ke tanah air dan menjadi awal masa kolonialisme di Indonesia. Terlepas dari sejarahnya yang kelam, pala hingga kini tetap menjadi salah satu rempah-rempah utama yang memiliki banyak kegunaan dengan harga cukup tinggi di pasaran. Selain digunakan sebagai bumbu dapur, pala juga disuling untuk menghasilkan minyak pala yang digunakan untuk kebutuhan berbagai industri.

Pohon pala yang ditanam dari biji baru bisa berbuah sekitar 5-7 tahun setelah penanaman. Usia pohonnya dapat mencapai puluhan tahun dengan masa produktif lebih dari 25 tahun. Selain itu, pohon pala juga dapat berbuah lebih dari sekali dalam setahun dan proses pasca panennya tidak terlalu sulit. Umumnya setelah dipanen, biji pala dikeringkan dengan cara diasap atau dijemur di bawah terik matahari. Setelah kering, biji pala sudah siap untuk dipasarkan baik untuk pasar domestik maupun internasional. Bentuk pohon yang rimbun dengan daun berwarna hijau, bertajuk lebar, serta berakar tunggang mampu menahan air dan memberi kesejukan bagi sekitarnya. Oleh karena itu, menanam pala merupakan salah satu investasi jangka panjang yang cukup menjanjikan baik untuk diri sendiri maupun lingkungan.

Sekitar bulan Maret 2017, saya mulai mencoba untuk menanam pohon pala sebagai tanaman alternatif selain jati yang sudah ada terlebih dahulu di kebun. Bibitnya ┬ádibeli dari Pusat Pembibitan Tanaman Hutan yang lokasinya tidak jauh dari kebun. Bibit pala yang sudah siap tanam dibeli dengan harga Rp10.000/pohon. Total bibit pala yang dibeli sebanyak 300 pohon dan langsung ditanam di kebun dengan jarak sekitar 10 x 10 meter. Menurut sang penjual bibit, ketika pertama kali dipindahkan ke tanah sebaiknya bibit pala diberi naungan agar bibit yang sudah di tanam tidak mudah mati. Namun, hal tersebut urung dilakukan karena bibit yang ditanam cukup banyak. Dari hasil pengamatan setelah beberapa bulan ditanam, bibit yang ternaungi (semak dan belukar) bibitnya tampak lebih sehat dan berdaun sangat hijau sementara bibit yang ditanam di tanah lapang terlihat sehat namun ada beberapa daun yang terlihat pucat/layu. Berikut adalah beberapa dokumentasi bibit sebelum dan sesudah ditanam. Semoga pohon pala yang sudah ditanam tersebut dapat tumbuh subur dan dapat berbuah dengan lebat. Aamiin…

Bibit pala di lokasi pembibitan

 

Bibit pala yang sudah ditanam (1)

 

Bibit pala yang sudah ditanam (2)

 

Bibit pala yang sudah ditanam (3)

 

Bibit pala yang sudah ditanam (4)

 

Bibit pala yang sudah ditanam (5)

 

Bibit pala yang sudah ditanam (6)

 

Bibit pala yang sudah ditanam (7)