Undangan Interview Beasiswa Chevening

Malam itu 14 Februari 2018 pukul 19.20 WIB sebuah email yang tak pernah diduga-duga masuk; “Dear Teguh, We are pleased to inform you that your application for Chevening award has been progressed to the next stage of the selection process. You have been selected by the British Embassy in Jakarta to attend an interview. Please log into the online application centre and take the following actions.” Sumpah, saat membaca email itu saya sempat termangu, terdiam dan beberapa kali membaca ulang isi email tersebut dan bertanya-tanya “eh, ini bener gak?”.

Saat membaca email itu saya tengah berada di Malang dan dalam perjalanan menuju hotel setelah menyelesaikan pemeriksaan salah satu proyek pekerjaan milik Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Just in case salah baca atau salah mengartikan karena memang waktu itu saya lagi benar-benar capek banget panas-panasan seharian. Untuk meyakinkan diri, malam itu juga saya langsung login ke application centre dan ternyata menu pemilihan jadwal interview sudah tersedia. Saya pun memutuskan memilih interview tanggal 9 April 2018 agar masih ada waktu yang cukup untuk mempersiapkan diri. Beberapa saat kemudian, email baru dari Chevening kembali masuk; “Dear Teguh, Thank you for scheduling your Chevening interview. The details of your interview are as below; Date: 9 April 2018, Location: British Embassy Jakarta”. Alhamdulillah…ucap saya waktu itu.

Jujur, bisa lulus ke tahap interview bagi saya merupakan suatu capaian yang luar biasa dan benar-benar di luar dugaan. Saya masih ingat banget waktu itu lembur tiap malam selama berminggu-minggu buat nyusun empat buah essay dalam Bahasa Inggris. Keempat essay tersebut harus menceritakan tentang leadership skills, networking skills, carreer plan dan study objective masing-masing sebanyak 500 kata. Bagi saya essay-essay tersebut sangat sulit, apalagi waktu itu bingung mau cerita apa, bingung mau menyampaikan apa, bingung merangkai kalimat berbahasa Inggris yang pas, bingung milih jurusan apa dan hal-hal membingungkan lainnya. Nampaknya hari ini essay sudah kelihatan bagus, eh besok pas dilihat lagi kok gini ya essay-nya, kok rada gak nyambung, revisi lagi, revisi lagi, begitu seterusnya setiap hari.

Setelah draft essay sudah jadi, essay tersebut sempat saya konsultasikan ke dosen pembimbing di kampus dan ke salah satu awardee Chevening tahun 2017 yang juga seangkatan saat kuliah di Komunikasi Unair. Thanks to Mbak Kandi dan Gigo atas review dan feedback-nya, benar-benar sangat membantu untuk menghadirkan ide-ide baru yang bisa dituangkan ke dalam essay.

Sebagai tahap akhir seleksi Beasiswa Chevening, saya berharap saat interview nanti saya dapat benar-benar meyakinkan para panelis tentang apa yang sudah saya sampaikan di dalam essay. Harapan besar untuk bisa lulus dan melanjutkan studi S2 di Inggris tentu ada, tetapi saya pun sudah siap dengan segala kemungkinan yang akan terjadi. Yang perlu saya lakukan saat ini hanyalah berusaha semaksimal mungkin, mempersiapkan diri dan mengikhlaskan segalanya kepada Allah Yang Maha Kuasa.