Investasi Tanah Itu Tidak Sepenuhnya Mudah

Investasi tanah merupakan salah satu instrumen investasi yang sangat familiar dan banyak dilakukan. Selain fisik asetnya yang bersifat turun temurun dan dapat diwariskan, nilai jual tanah juga terus mengalami kenaikan signifikan dari waktu ke waktu. Oleh karena itu, investasi tanah sampai saat ini masih menjadi primadona dan menjadi sesuatu yang “wajib” selain berinvestasi pada logam mulia, saham maupun reksadana.

  Gambar 1: Salah satu sisi tanah di Palangga

Setelah bekerja dan mendapat penghasilan sendiri selama kurang lebih dua tahun, saya mulai memikirkan instrument investasi apa sih yang sebaiknya saya lakukan. Saya pun memutuskan untuk “menguras” tabungan dan pendapatan untuk berinvestasi dan membeli aset tetap berupa tanah di Kecamatan Palangga, Kabupaten Konawe Selatan. Lokasi tanah tersebut dapat ditempuh 1,5-2 jam perjalanan dari Kota Kendari. Meskipun berada di luar Kota Kendari, lokasi tanah tersebut berada tidak jauh dari kawasan ibukota Kabupaten Konawe Selatan, Andoolo. Tapi, meskipun dekat kawasan ibukota, jangan bayangkan kotanya ramai seperti Kendari. Ibukotanya tidak ramai dengan aktifitas ekonomi dan perdagangan. Jalan protokolnya bahkan tidak terlalu ramai, hanya saja sering dilewati kendaraan karena merupakan jalur utama yang menghubungkan Kota Kendari dengan Kabupaten Bombana.

Sebenarnya, sejak kuliah memang sudah sempat berkeinginan untuk memiliki tanah yang luas untuk membuat rumah yang jauh dari hiruk pikuk perkotaan dan halamannya ada kebun-kebun yang luas. Alhamdulillah, perlahan-perlahan keinginan tersebut dikabulkan Allah. Tidak jauh dari hari ulang tahun ke-24, Oktober tahun 2016 lalu saya dipertemukan dengan orang yang sedang ingin menjual beberapa aset tanahnya di daerah tersebut. Singkat cerita, sebelum deal pada tanah tadi sempat diwarnai beberapa “drama”. Pertama, tanah yang ingin dibeli ternyata sudah dijual beberapa bagian oleh sanak saudaranya tanpa sepengetahuan beliau. Kedua, saat kami survey ke lokasi, beberapa warga ada yang mengaku tanah tersebut merupakan tanah “nenek moyangnya”. Sebuah klaim tidak berdasar yang tentunya sangat merugikan beliau sebagai pihak yang memiliki tanah tersebut.

Setelah melihat sendiri beberapa “drama” tersebut, saya sempat berpikir kembali apakah akan tetap beli tanah atau tidak. Sempat terpikir “ah, sudahlah, kayaknya kok ribet banget, mau beli tanah aja susahnya minta ampun”. Hingga kemudian, beliau kembali menawarkan tanahnya yang lain yang Insya Allah katanya tidak akan ada sengketa seperti tanah sebelumnya. Setelah menimbang-nimbang, akhirnya saya sepakat untuk melihat terlebih dahulu lokasinya. Waktu pertama kali ke lokasi tanah tersebut, saya benar-benar langsung ada “feel” dengan lokasinya. Pertimbangannya: pertama, lokasinya tidak berada dipinggir jalan utama, melainkan masuk ke dalam sekitar 200-an meter dan berada tidak jauh dengan pasar setempat. Kedua, lokasi tanahnya hanya beberapa puluh meter dari perkampungan warga dan bersebelahan dengan sebuah pesantren. Ketiga, kontur tanahnya cenderung rata dan terdapat empat bukit yang bisa melihat seluruh kawasan dalam lokasi tersebut. Keempat, lokasinya tidak terlalu jauh dan dapat ditempuh kurang dari dua jam dari Kota Kendari.

Akhirnya, setelah menimbang-nimbang dan diskusi dengan orang tua, saya memutuskan untuk deal dan membeli tanah tersebut. Setelah diukur pihak Pertanahan, luasnya mencapai 11 Ha  dan tidak jauh berbeda dengan luasan yang awalnya saya inginkan. Karena masih belum bersertifikat, kami bersepakat untuk membuat Perjanjian Pengikatan Jual Beli (PPJB) terlebih dahulu di hadapan notaris dan akan dilanjutkan dengan membuat Akta Jual Beli (AJB) setelah proses sertifikat selesai. Seluruh proses pengurusan sertifikat tersebut saya percayakan sepenuhnya kepada beliau sebagai ahli waris sah tanah tersebut. Mudah-mudahan dalam waktu dekat ini, setidaknya paling lambat akhir tahun ini sertifikat atas tanah tersebut sudah selesai di Pertanahan setempat.

Sementara itu, biaya pembuatan sertifikat tersebut terbilang cukup mahal dan sesuai perjanjian harus saya yang tanggung. Tidak apa-apa, itu semua demi keamanan dan keabsahan kepemilikan tanah tersebut. Jika tidak ada aral melintang, tahun depan setelah sertifikat atas nama ahli waris tersebut telah selesai, akan segera di AJB-kan dan jika ada rezeki berlebih akan sekalian saya balik nama agar semua prosesnya selesai dan tuntas.

Oh ya, sebagai penanda bahwa tanah tersebut sudah beralih kepemilikan dan sudah ada yang memiliki, saya juga sudah mulai merintis penanaman tanaman jangka panjang dan membangun gubuk kecil untuk tempat berteduh yang nanti akan saya buatkan ceritanya dalam postingan yang berbeda.

Jadi, buat kalian yang berencana berinvestasi tanah, siap-siaplah untuk melalui beberapa proses yang cukup memakan waktu. Teliti dahulu asal-usul tanah tersebut supaya dikemudian hari kita sebagai pembeli tidak dirugikan dan tidak bersengketa dengan orang lain. Bahkan, fenomena yang terjadi di lapangan, satu bidang tanah bisa memiliki lebih dari satu sertifikat. Jangan lupa juga untuk mengecek terlebih dahulu sertifikat tanahnya ke kantor pertanahan setempat untuk mengetahui riwayat kepemilikan tanah tersebut. Untuk setiap proses transaksi jual beli, wajib dilakukan di hadapan Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT) dalam hal ini bisa ke notaris atau camat setempat. Dan apabila tanah yang dibeli belum bersertifikat, sebaiknya buat PPJB dahulu di hadapan notaris dan masukkan klausul bahwa pihak penjual menjamin keabsahan kepemilikan tanah tersebut. Di PPJB juga akan dijelaskan hak dan kewajiban dari masing-masing pihak baik pembeli maupun penjual, sehingga jika dikemudian hari terjadi sesuatu yang tidak diinginkan pada status kepemilikan tanah tersebut, sebagai pihak pembeli kita dapat menuntut ganti rugi kepada pihak penjual.

Baiklah kalau begitu, cukup sekian sharing tentang investasi tanah yang ternyata tidak sepenuhnya mudah seperti yang dibayangkan. Semoga dapat menjadi catatan untuk kita semua.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *