Membuat Paspor Elektronik/e-Paspor di Kantor Imigrasi Kelas I Khusus Surabaya

Okay, kali ini aku bakal cerita tentang pengalaman membuat paspor elektronik/e-paspor di Kantor Imigrasi Kelas I Khusus Surabaya. Paspor elektronik merupakan salah satu varian paspor yang dikeluarkan oleh pihak imigrasi sebagai alternatif paspor yang jauh lebih aman dan sulit dipalsukan karena dilengkapi chip yang berisi data biometrik pemegangnya. Selain jauh lebih aman, banyak orang tertarik membuat paspor elektronik karena adanya kesempatan mendapatkan bebas visa ke beberapa negara, salah satunya Jepang. Bebas visa ke Jepang ini berlaku untuk kunjungan maksimal 15 hari dan khusus diperuntukkan bagi WNI pemegang e-paspor. Untuk biaya pembuatannya, paspor biasa 48 halaman dikenakan biaya Rp355.000 dan paspor elektronik 48 halaman sebesar Rp655.000.

Nah, sebelum ke kantor imigrasi, perlu diketahui bahwa pembuatan paspor di Surabaya, baik di Kantor Imigrasi Kelas I Khusus, Kantor Imigrasi Tanjung Perak maupun Unit Layanan Paspor I Surabaya semuanya sudah menggunakan mekanisme antrian online. Antrian online ini merupakan salah satu inovasi yang dilakukan oleh pihak imigrasi untuk meminimalisir antrian pembuatan paspor yang dulu selalu membludak sejak shubuh bahkan dinihari untuk sekedar mengambil nomor antrian. Fasilitas antrian online ini dapat diakses melalui aplikasi Antrian Paspor yang dapat diunduh di Play Store maupun App Store atau melalui http://antrian.imigrasi.go.id. Kalau tidak salah, jumlah pemohon perhari masing-masing dibatasi sebanyak 300 pemohon. Karena tingginya jumlah permohonan paspor, terkadang kuota antrian pada tanggal tertentu sudah full dan harus menunggu sampai kuota tanggal lain dibuka. Untuk setiap pemohon yang telah mendapat nomor antrian ditanggal yang diinginkan, pemohon akan mendapat info jam/sesi kedatangan ke kantor imigrasi. Datang lebih awal dari jam/sesi yang ditentukan tidak akan dilayani, datang setelah sesi berakhir juga tidak akan dilayani. Jadi, pastikan datang sesuai sesi yang telah ditentukan dalam nomor antrian yang Anda dimiliki.

Adapun berkas-berkas yang diperlukan: KTP/Surat Keterangan, Kartu Keluarga, Akta Kelahiran, Ijazah dan materai 6000. Pastikan bahwa semua informasi dalam identitas tersebut tidak ada yang salah atau tidak sesuai, apabila ada yang berbeda harus diperbarui dulu datanya di Dispenduk domisili. Tentu gak mau kan sudah susah-susah hunting nomor antrian dan jauh-jauh ke imigrasi dan ujungnya ditolak karena ada yang salah di dokumen-dokumen tersebut. Setelah dokumen dipastikan benar dan lengkap, selanjutnya silakan datang ke kantor Imigrasi Kelas I Khusus Surabaya di Jalan Raya Juanda Sidoarjo sesuai sesi yang tertera di nomor antrian. Tiba di kantor imigrasi, selanjutnya pemohon akan diminta mengisi formulir dan menandatangani surat pernyataan. Selanjutnya petugas imigrasi akan memberi nomor antrian untuk foto dan wawancara.

Apabila proses foto dan wawancara sudah selesai, petugas akan memberikan slip yang berisi nomor pembayaran dan nomor permohonan yang akan digunakan untuk pengambilan paspor. Segera lakukan pembayaran biaya paspor melalui bank yang ditunjuk (saya waktu itu membayar melalui ATM BNI) dan simpan struk/bukti pembayaran tersebut. Proses pembuatan paspor sampai tahap ini sudah selesai dan tiga atau empat hari setelahnya silakan melakukan konfirmasi ke Kantor Imigrasi apakah paspor elektronik sudah bisa diambil. Pengambilan paspor cukup membawa slip yang diberikan oleh petugas foto dan struk/bukti bayar dari bank. Untuk mendapatkan nomor antrian pengambilan paspor cukup scan barcode yang ada di slip pada mesin antrian dan secara otomatis nomor antrian pengambilan paspor akan keluar. Selanjutnya silakan tunggu sampai nama Anda dipanggil. Sebelum meninggalkan kantor imigrasi pastikan kembali identitas dalam paspor sudah benar dan pastikan juga bahwa foto yang tertera adalah foto Anda, bukan foto orang lain :).

Oh ya, waktu itu saya mengajukan permohonan e-paspor tanggal 18 Oktober 2017 dan e-paspor sudah dapat  saya ambil tanggal 24 Oktober 2017. Pada beberapa kasus, e-paspor bisa jadi lebih lama karena satu dan lain hal, jadi biar gak sia-sia datang dan ternyata belum jadi sebaiknya lakukan konfirmasi dulu ke pihak imigrasi. Sementara itu, pada saat wawancara saya juga gak ditanya aneh-aneh, cuma ditanya rencana buat paspor untuk apa, setelah itu foto dan langsung dilanjutkan dengan perekaman sidik jari. Cukup mudah bukan?

 

Yeay…Pendaftaran CPNS BPK Tahun 2017 Resmi Dibuka

Setelah dua tahun tidak melakukan rekrutmen pegawai baru, tahun 2017 ini Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia (BPK RI) kembali melakukan rekrutmen pegawai baru. Rekrutmen tersebut dilakukan berdasarkan Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 72 Tahun 2017 tentang Kebutuhan Pegawai Aparatur Sipil Negara di Lingkungan Badan Pemeriksa Keuangan Tahun Anggaran 2017 yang menetapkan jumlah formasi yang akan diterima sebanyak 300 orang. Adapun formasi yang dibutuhkan adalah lulusan Sarjana dengan beberapa disiplin ilmu seperti psikologi, akuntansi, manajemen, ilmu ekonomi studi pembangunan, hukum, ilmu komunikasi, teknik informatika/sistem informasi, teknik sipil, sastra, hubungan internasional dan teknik lingkungan. Sebanyak 295 orang akan mengisi jabatan fungsional pemeriksa dan 5 orang akan mengisi jabatan assesor aparatur SDM.

Pendaftaran mulai dapat dilaksanakan tanggal 11 September s.d 25 September 2017 melalui laman https://sscn.bkn.go.id/. Adapun tahapan seleksi masih sama seperti rekrutmen tahun 2014 lalu yang dimulai dengan seleksi administratif, tes kompetensi dasar berbasis CAT serta tes kompetensi bidang yang meliputi tes psikologi dan wawancara.

Calon pegawai negeri sipil hasil rekrutmen tahun 2017 ini akan ditempatkan di kantor pusat dan kantor perwakilan BPK di Pulau Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Nusa Tenggara dan Papua. Karena rekrutmen BPK belum tentu dilaksanakan setiap tahun, kesempatan ini jadi momen yang tepat buat kalian yang ingin mengabdikan diri sebagai auditor negara dan memberi kontribusi nyata bagi terwujudnya transparansi dan akuntabilitas pengelolaan keuangan negara/daerah. Untuk informasi lebih lengkap silakan download pengumuman ini atau akses di https://cpns.bpk.go.id/. Selamat berjuang!

Percobaan Menanam Pala

Tanaman pala merupakan salah satu tanaman rempah-rempah asli Indonesia yang biasanya tumbuh di dataran rendah. Tanaman ini berasal dari Kepulauan Maluku, kemudian menyebar ke berbagai daerah dan menjadi salah satu rempah penting sejak zaman kolonial sampai sekarang. Kalau kita kembali membaca sejarah, rempah-rempah inilah yang menjadi penyebab kedatangan bangsa-bangsa eropa ke tanah air dan menjadi awal masa kolonialisme di Indonesia. Terlepas dari sejarahnya yang kelam, pala hingga kini tetap menjadi salah satu rempah-rempah utama yang memiliki banyak kegunaan dengan harga cukup tinggi di pasaran. Selain digunakan sebagai bumbu dapur, pala juga disuling untuk menghasilkan minyak pala yang digunakan untuk kebutuhan berbagai industri.

Pohon pala yang ditanam dari biji baru bisa berbuah sekitar 5-7 tahun setelah penanaman. Usia pohonnya dapat mencapai puluhan tahun dengan masa produktif lebih dari 25 tahun. Selain itu, pohon pala juga dapat berbuah lebih dari sekali dalam setahun dan proses pasca panennya tidak terlalu sulit. Umumnya setelah dipanen, biji pala dikeringkan dengan cara diasap atau dijemur di bawah terik matahari. Setelah kering, biji pala sudah siap untuk dipasarkan baik untuk pasar domestik maupun internasional. Bentuk pohon yang rimbun dengan daun berwarna hijau, bertajuk lebar, serta berakar tunggang mampu menahan air dan memberi kesejukan bagi sekitarnya. Oleh karena itu, menanam pala merupakan salah satu investasi jangka panjang yang cukup menjanjikan baik untuk diri sendiri maupun lingkungan.

Sekitar bulan Maret 2017, saya mulai mencoba untuk menanam pohon pala sebagai tanaman alternatif selain jati yang sudah ada terlebih dahulu di kebun. Bibitnya  dibeli dari Pusat Pembibitan Tanaman Hutan yang lokasinya tidak jauh dari kebun. Bibit pala yang sudah siap tanam dibeli dengan harga Rp10.000/pohon. Total bibit pala yang dibeli sebanyak 300 pohon dan langsung ditanam di kebun dengan jarak sekitar 10 x 10 meter. Menurut sang penjual bibit, ketika pertama kali dipindahkan ke tanah sebaiknya bibit pala diberi naungan agar bibit yang sudah di tanam tidak mudah mati. Namun, hal tersebut urung dilakukan karena bibit yang ditanam cukup banyak. Dari hasil pengamatan setelah beberapa bulan ditanam, bibit yang ternaungi (semak dan belukar) bibitnya tampak lebih sehat dan berdaun sangat hijau sementara bibit yang ditanam di tanah lapang terlihat sehat namun ada beberapa daun yang terlihat pucat/layu. Berikut adalah beberapa dokumentasi bibit sebelum dan sesudah ditanam. Semoga pohon pala yang sudah ditanam tersebut dapat tumbuh subur dan dapat berbuah dengan lebat. Aamiin…

Bibit pala di lokasi pembibitan

 

Bibit pala yang sudah ditanam (1)

 

Bibit pala yang sudah ditanam (2)

 

Bibit pala yang sudah ditanam (3)

 

Bibit pala yang sudah ditanam (4)

 

Bibit pala yang sudah ditanam (5)

 

Bibit pala yang sudah ditanam (6)

 

Bibit pala yang sudah ditanam (7)

Investasi Tanah Itu Tidak Sepenuhnya Mudah

Investasi tanah merupakan salah satu instrumen investasi yang sangat familiar dan banyak dilakukan. Selain fisik asetnya yang bersifat turun temurun dan dapat diwariskan, nilai jual tanah juga terus mengalami kenaikan signifikan dari waktu ke waktu. Oleh karena itu, investasi tanah sampai saat ini masih menjadi primadona dan menjadi sesuatu yang “wajib” selain berinvestasi pada logam mulia, saham maupun reksadana.

Gambar 1: Salah satu sisi tanah di Palangga

Setelah bekerja dan mendapat penghasilan sendiri selama kurang lebih dua tahun, saya mulai memikirkan instrument investasi apa sih yang sebaiknya saya lakukan. Saya pun memutuskan untuk “menguras” tabungan dan pendapatan untuk berinvestasi dan membeli aset tetap berupa tanah di Kecamatan Palangga, Kabupaten Konawe Selatan. Lokasi tanah tersebut dapat ditempuh 1,5-2 jam perjalanan dari Kota Kendari. Meskipun berada di luar Kota Kendari, lokasi tanah tersebut berada tidak jauh dari kawasan ibukota Kabupaten Konawe Selatan, Andoolo. Tapi, meskipun dekat kawasan ibukota, jangan bayangkan kotanya ramai seperti Kendari. Ibukotanya tidak ramai dengan aktifitas ekonomi dan perdagangan. Jalan protokolnya bahkan tidak terlalu ramai, hanya saja sering dilewati kendaraan karena merupakan jalur utama yang menghubungkan Kota Kendari dengan Kabupaten Bombana.

Sebenarnya, sejak kuliah memang sudah sempat berkeinginan untuk memiliki tanah yang luas untuk membuat rumah yang jauh dari hiruk pikuk perkotaan dan halamannya ada kebun-kebun yang luas. Alhamdulillah, perlahan-perlahan keinginan tersebut dikabulkan Allah. Tidak jauh dari hari ulang tahun ke-24, Oktober tahun 2016 lalu saya dipertemukan dengan orang yang sedang ingin menjual beberapa aset tanahnya di daerah tersebut. Singkat cerita, sebelum deal pada tanah tadi sempat diwarnai beberapa “drama”. Pertama, tanah yang ingin dibeli ternyata sudah dijual beberapa bagian oleh sanak saudaranya tanpa sepengetahuan beliau. Kedua, saat kami survey ke lokasi, beberapa warga ada yang mengaku tanah tersebut merupakan tanah “nenek moyangnya”. Sebuah klaim tidak berdasar yang tentunya sangat merugikan beliau sebagai pihak yang memiliki tanah tersebut.

Setelah melihat sendiri beberapa “drama” tersebut, saya sempat berpikir kembali apakah akan tetap beli tanah atau tidak. Sempat terpikir “ah, sudahlah, kayaknya kok ribet banget, mau beli tanah aja susahnya minta ampun”. Hingga kemudian, beliau kembali menawarkan tanahnya yang lain yang Insya Allah katanya tidak akan ada sengketa seperti tanah sebelumnya. Setelah menimbang-nimbang, akhirnya saya sepakat untuk melihat terlebih dahulu lokasinya. Waktu pertama kali ke lokasi tanah tersebut, saya benar-benar langsung ada “feel” dengan lokasinya. Pertimbangannya: pertama, lokasinya tidak berada dipinggir jalan utama, melainkan masuk ke dalam sekitar 200-an meter dan berada tidak jauh dengan pasar setempat. Kedua, lokasi tanahnya hanya beberapa puluh meter dari perkampungan warga dan bersebelahan dengan sebuah pesantren. Ketiga, kontur tanahnya cenderung rata dan terdapat empat bukit yang bisa melihat seluruh kawasan dalam lokasi tersebut. Keempat, lokasinya tidak terlalu jauh dan dapat ditempuh kurang dari dua jam dari Kota Kendari.

Akhirnya, setelah menimbang-nimbang dan diskusi dengan orang tua, saya memutuskan untuk deal dan membeli tanah tersebut. Setelah diukur pihak Pertanahan, luasnya mencapai 11 Ha  dan tidak jauh berbeda dengan luasan yang awalnya saya inginkan. Karena masih belum bersertifikat, kami bersepakat untuk membuat Perjanjian Pengikatan Jual Beli (PPJB) terlebih dahulu di hadapan notaris dan akan dilanjutkan dengan membuat Akta Jual Beli (AJB) setelah proses sertifikat selesai. Seluruh proses pengurusan sertifikat tersebut saya percayakan sepenuhnya kepada beliau sebagai ahli waris sah tanah tersebut. Mudah-mudahan dalam waktu dekat ini, setidaknya paling lambat akhir tahun ini sertifikat atas tanah tersebut sudah selesai di Pertanahan setempat.

Sementara itu, biaya pembuatan sertifikat tersebut terbilang cukup mahal dan sesuai perjanjian harus saya yang tanggung. Tidak apa-apa, itu semua demi keamanan dan keabsahan kepemilikan tanah tersebut. Jika tidak ada aral melintang, tahun depan setelah sertifikat atas nama ahli waris tersebut telah selesai, akan segera di AJB-kan dan jika ada rezeki berlebih akan sekalian saya balik nama agar semua prosesnya selesai dan tuntas.

Oh ya, sebagai penanda bahwa tanah tersebut sudah beralih kepemilikan dan sudah ada yang memiliki, saya juga sudah mulai merintis penanaman tanaman jangka panjang dan membangun gubuk kecil untuk tempat berteduh yang nanti akan saya buatkan ceritanya dalam postingan yang berbeda.

Jadi, buat kalian yang berencana berinvestasi tanah, siap-siaplah untuk melalui beberapa proses yang cukup memakan waktu. Teliti dahulu asal-usul tanah tersebut supaya dikemudian hari kita sebagai pembeli tidak dirugikan dan tidak bersengketa dengan orang lain. Bahkan, fenomena yang terjadi di lapangan, satu bidang tanah bisa memiliki lebih dari satu sertifikat. Jangan lupa juga untuk mengecek terlebih dahulu sertifikat tanahnya ke kantor pertanahan setempat untuk mengetahui riwayat kepemilikan tanah tersebut. Untuk setiap proses transaksi jual beli, wajib dilakukan di hadapan Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT) dalam hal ini bisa ke notaris atau camat setempat. Dan apabila tanah yang dibeli belum bersertifikat, sebaiknya buat PPJB dahulu di hadapan notaris dan masukkan klausul bahwa pihak penjual menjamin keabsahan kepemilikan tanah tersebut. Di PPJB juga akan dijelaskan hak dan kewajiban dari masing-masing pihak baik pembeli maupun penjual, sehingga jika dikemudian hari terjadi sesuatu yang tidak diinginkan pada status kepemilikan tanah tersebut, sebagai pihak pembeli kita dapat menuntut ganti rugi kepada pihak penjual.

Baiklah kalau begitu, cukup sekian sharing tentang investasi tanah yang ternyata tidak sepenuhnya mudah seperti yang dibayangkan. Semoga dapat menjadi catatan untuk kita semua.

Assalamualaikum…

Surabaya, 1 Juni 2017

Ini adalah postingan pertama saya setelah beberapa tahun tidak pernah aktif dalam dunia tulis menulis. Isi postingan pertama ini tidak akan panjang-panjang. Saya masih merasa kaku untuk menulis di website ini. Maklum, tulisan terpanjang terakhir yang saya buat adalah SKRIPSI tahun 2014 yang lalu.

Saya perlu menceritakan sedikit mengenai latar belakangnya. Entah mengapa, beberapa bulan terakhir saya kepikiran untuk menulis lagi. Hal-hal penting seperti ide, gagasan, aktifitas dan kegiatan yang sudah dilakukan terkadang begitu mudahnya terhapus dari memori pikiran. Selain itu tuntutan pekerjaan yang harus tetap bisa menulis, apalagi menulis temuan dan buku hasil pemeriksaan membuat saya kembali berpikir untuk belajar menulis lagi. Sama seperti kemampuan lainnya, menulis butuh latihan. Kalau tidak dilatih, percayalah pasti akan kaku dan bingung mau menulis apa. Sama seperti kekakuan yang saya alami beberapa tahun belakangan setelah lulus dari kampus.

Oleh karena itu, untuk mengingat kembali apa-apa yang sudah saya lakukan, ke mana saja saya berjalan, apa saja yang saya pikirkan, saya harus menuliskannya di media ini. Perkara dibaca orang lain atau tidak bukan menjadi tujuan utama. Setidaknya suatu saat nanti di masa depan, saya masih bisa membuka lagi halaman-halaman ini dan melihat semacam kaleidoskop kehidupan yang pasti sangat bermakna bagi diri saya sendiri.

Itulah sedikit pengantar dari saya, semoga segalanya dimudahkan, aamiinn.